Pages

Sabtu, 16 Januari 2010

KONSEP PSIKOLOGI PROFETIK: SUATU RELEVANSI PENAFSIRAN AGAMA DALAM MENYIKAPI PERKEMBANGAN GLOBAL

Oleh Ratna Ayu

ETIMOLOGI DAN DEFINISI PSIKOLOGI PROFETIK

Menurut Wikipedia, istilah “psikologi” berasal dari bahasa Yunani Kuno psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti jiwa. Jadi, secara harfiah psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental., psikologi tidak mempelajari jiwa/mental secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya. Dengan demikian, psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental.

Istilah “profetik” diambil dari gagasan Kuntowijoyo (dalam Asep Sofyan, 2008). Istilah ini berasal dari kata prophet yang berarti nabi sehingga prophetical atau profetik kurang lebih berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi dan kenabian. Dengan demikian, psikologi profetik dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental berdasarkan pada ajaran dan semangat kenabian.

BEBERAPA ISTILAH ISLAMISASI PSIKOLOGI

Menurut Asep Sofyan (2008), istilah psikologi profetik mungkin memperpanjang daftar perdebatan mengenai sebuah gerakan intelektual yang berkembang sejak kuartal terakhir abad ke-20, yaitu Islamisasi pengetahuan, termasuk dalam psikologi. Psikologi yang berkembang saat ini, khususnya dari Barat, harus disesuaikan dulu sebelum dipakai di dunia Islam. Di Indonesia, ada beberapa istilah yang sudah terdaftar sebagai bentuk Islamisasi, antara lain: nafsiologi, psikologi Illahiah, psikologi Islam, psikologi Islami, dan psikologi pribumi (indigenous psychology).

1. Nafsiologi. Istilah yang diusulkan oleh Sukanto MM ini merupakan penggabungan dua istilah dari dua bahasa yaitu dari bahasa Arab nafs yang berarti jiwa dan logos dari bahasa Yunani yang berarti ilmu. Menurut Asep Sofyan (2008), penggabungan ini sulit dipertanggungjawabkan, terlebih lagi nama usulan ini terdengar aneh karena sehari-hari kita terbiasa menyebut psikologi.

2. Psikologi Illahiah. Berdasarkan perspektif yang mendasari rangkaian mazhab dalam psikologi, istilah ini sebenarnya cukup tepat. Psikologi Illahiah melihat manusia sebagai makhluk yang bertuhan, dimaksudkan menjadi mazhab kelima dalam psikologi setelah psikoanalisis, behaviorisme, humanistik, dan transpersonal. Namun demikian, menurut Asep Sofyan (2008), nama yang digagas oleh Zuardin Azzaino ini tidak menyediakan totalitas, yaitu rentangan dari jahat, baik, hingga bertuhan.

3. Psikologi Islam dan psikologi Islami adalah dua nama yang paling populer. Di Indonesia, istilah psikologi Islam dipertahankan oleh Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir. Psikologi Islami dipakai oleh mayoritas penggagas integrasi psikologi dan Islam di negeri ini, seperti Fuad Nashori, Djamaluddin Ancok, dan Hanna Djumhanna Bastaman. Para aktivis Imamupsi (Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia) sering menyebutnya secara bergantian.

4. Psikologi pribumi (indigenous psychology) adalah suatu konsep yang harus diisi, tidak spesifik, pribumi apa? Karena kita berada di Indonesia maka sepantasnya psikologi ini disebut psikologi Indonesia, tetapi dapat pula diisi dengan Islam.

KESADARAN PROFETIK

Kemajuan dunia semakin lama semakin berkembang sehingga terjadi banyak perubahan yang menuntut semua pihak untuk mampu menyesuaikan diri perubahan yang ada, diantaranya dengan adanya perkembangan global yang menuntut penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, sebagai bagian dari masyarakat dunia, umat Islam pun mau tidak mau harus dapat menentukan sikap yang tepat dalam menghadapinya, yaitu harus tetap dalam bingkai ajaran Islam. Dalam gudangmakalah.blogspot.com disebutkan bahwa agama pun harus mampu menjawab persoalan-persoalan kontemporer yang muncul. Relevansi penafsiran agama dalam merespon perubahan dunia yang begitu dahsyat menjadi sebuah tuntutan. Kesulitan dan kegagalan dalam mengatasi perubahan sosial dapat menyebabkan agama kehilangan pengaruh dan relevansinya. Dari sinilah keberadaan kesadaran profetik menjadi sangat penting.

Menurut Masdar Hilmy (2009), kesadaran profetik ini penting karena sekarang ini fenomena kehidupan terlihat semakin menjauh dari semangat kenabian, misalnya maraknya kekerasan, terorisme, kriminalitas, kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, ketertindasan, keangkuhan, dan pemberhalaan duniawi. Profetik Islam mempunyai misi membebaskan umat manusia dari segala bentuk belenggu kemanusiaan tersebut serta mengajak mereka melakukan perubahan menuju kurva positif.

Hal ini selaras dengan perjalanan Nabi Muhammad Saw yang semasa hidupnya setidaknya melakukan tiga pembebasan besar bagi umat dan masyarakatnya, yaitu dalam bidang sosio-kultural, ekonomi, serta penyikapan terhadap agama yang berlainan.

Menurut Kuntowijoyo, pemahaman terhadap ajaran Islam, khususnya pada aspek teologi memerlukan penafsiran-penafsiran baru dalam rangka memahami realita yang senantiasa berubah. Usaha melakukan reorientasi pemahaman keagamaan, baik secara individual maupun kolektif adalah untuk menyikapi kenyataan-kenyataan empiris menurut perspektif ketuhanan. Dengan demikian, ajaran agama perlu diberi interpretasi dalam rangka memahami realitas. Pemahaman ini tidak boleh dilakukan secara harfiah dan sepotong-potong, tetapi harus elastis, komprehensif, substansial, dan kontekstual.

MISI PROFETIK BERDASARKAN HISTORIS ISLAM

Menurut Kuntowijoyo dalam Wapedia (2008), ilmu sosial tidak boleh berpuas diri dalam usaha untuk menjelaskan atau memahami realita dan kemudian memaafkannya begitu saja tapi lebih dari itu, ilmu sosial harus juga mengemban tugas transformasi menuju cita-cita yang diidealkan masyarakatnya. Dalam bukunya Islam sebagai Ilmu, Kuntowijoyo mengusulkan perlunya ilmu sosial profetik sebagai cara memahami dan mentransformasi realita sosial secara ilmiah berdasarkan misi profetik Islam. Ilmu sosial profetik adalah ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana perubahan itu dilakukan, untuk apa, dan oleh siapa.

Kuntowijoyo merumuskan tiga nilai dasar sebagai pijakan ilmu sosial profetik, yaitu:

1. Humanisasi, yaitu menyuruh kepada kebaikan (ta’muruna bil ma’ruf). Humanisasi berarti memanusiakan manusia, yaitu upaya menempatkan posisi manusia sebagai makhluk yang mulia sesuai dengan kodrat atau martabat kemanusiaannya. Humanisasi diperlukan karena masyarakat sedang berada dalam tiga keadaan akut yaitu dehumanisasi (obyektivasi teknologis, ekonomis, budaya dan negara), agresivitas (agresivitas kolektif dan kriminalitas) dan loneliness (privatisasi, individuasi).

2. Liberasi, yaitu mencegah kemunkaran/ kejahatan (tanhauna ‘anil munkar). Liberasi merupakan nilai- nilai yang memiliki tanggung jawab profetik untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan, misalnya oleh hegemoni kebudayaan, dominasi struktur yang menindas, dominasi politik, eksploitasi pasar. kekejaman kemiskinan, dan hegemoni kesadaran palsu.

3. Transendensi, yaitu beriman kepada Allah (tu’minuna billah). Transendensi bermaksud menambahkan dimensi transendental yang ilahiah atau Tuhan ke dalam kebudayaan. Transendensi merupakan unsur terpenting dalam ilmu sosial profetik dan sekaligus menjadi dasar dari dua unsur lainnya, yaitu humanisasi dan liberasi karena transendensi memberi arah ke mana dan untuk tujuan apa humanisasi dan liberasi itu dilakukan. Bagi umat Islam, semuanya bermuara pada keimanan kepada Allah SWT.

Rumusan dari ketiga nilai dasar tersebut didasarkan pada ayat al Qur’an berikut:

Kamu adalah umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf,

dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..... (terjemah QS. Ali ‘Imran: 110)

Ayat ini merupakan landasan misi profetik yang harus diemban oleh umat Islam agar bisa menjadi umat terbaik di kalangan manusia. Predikat umat terbaik (khairu-ummah) bukanlah hadiah yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma tetapi diberikan berdasarkan prestasi tertentu, yaitu kemampuan melaksanakan tiga nilai dasar tersebut (Asep Sofyan, 2008). Ketiga nilai dasar ini selanjutnya menjadi karakteristik ilmu sosial profetik dan sekaligus sebagai misi profetik.

Masih berdasarkan pendapat Asep Sofyan (2008), dengan menggunakan istilah profetik”, misi Islam itu tetap hadir tanpa harus disebut Islam. Hal ini merupakan suatu bentuk objektivikasi dalam bahasa. Objektivikasi adalah strategi Kuntowijoyo untuk menjadikan keyakinan pribadi (misalnya Islam) dapat dirasakan manfaatnya oleh sebanyak mungkin manusia tanpa harus menyetujui keyakinan asal. Penyebutan humanisasi, liberasi, dan transendensi merupakan objektivikasi dalam bahasa. Demikian halnya dengan istilah “psikologi profetik.

BAGAIMANA RELEVANSI PSIKOLOGI PROFETIK TERHADAP PERKEMBANGAN GLOBAL?

Salah satu hal yang ironis sedang terjadi saat ini. Perkembangan serta kemajuan dunia dalam konteks global yang begitu pesat tidak diiringi dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang memandang manusia secara utuh. Pengetahuan yang ada saat ini melupakan satu dimensi paling penting yaitu ketuhanan. Sebagai contoh adalah psikologi yang di dalamnya terdapat empat madzab (Asep Sofyan, 2008), yaitu: (1) psikoanalisis yang menganggap Tuhan sebagai ilusi, (2) behaviorisme yang tidak memberi tempat pada Tuhan, (3) humanistik yang memberi nilai baik pada manusia, tetapi manusia yang malah cenderung berperan sebagai Tuhan, dan (4) transpersonal yang menambahkan dimensi spiritual, namun yang dimaksud tidak selalu Tuhan.

Sebelum dampak-dampak negatif itu terwariskan ke seluruh dunia, psikologi profetik sebagai ilmu dapat ikut berperan dalam melakukan humanisasi, liberasi, dan transendensi. Dengan psikologi profetik, ketiga misi ini digabungkan dan satu sama lain tidak terpisah. Psikologi profetik tidak seperti liberalisme yang mementingkan humanisasi, marxisme yang mementingkan liberasi, atau kebanyakan agama yang mementingkan transendensi. Psikologi profetik adalah ketiganya.

Menurut Muhammadun AS, ketiga misi dalam psikologi profetik tersebut dapat digunakan sebagai upaya untuk meneguhkan semangat profetik. Penjelasan dari ketiganya sebagai berikut.

1. Humanisasi (moderasi dalam pandangan Muhammadun AS) adalah bagaimana agama mampu menjadi perangkat dalam menegakkan kebaikan di muka bumi. Agama adalah spirit manusia untuk melakukan kerja-kerja sosial dalam rangka membawa kemaslahatan bagi semesta alam.

2. Liberasi adalah menempatkan agama sebagai kekuatan untuk membebaskan manusia dari berbagai ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan kriminalitas sosial lainnya. Spirit pembebasan yang lahir dari agama akan menjelma menjadi kekuatan revolusioner karena didukung oleh teks-teks ayat suci.

3. Transendensi adalah menempatkan agama sebagai ruh terhadap segala perilaku umat manusia. Dengan kata lain, transendensi adalah wujud transformasi Sang Pencipta kepada alam semesta yang diwakilkan kepada manusia.

Dalam ppsdms.org dijelaskan bahwa untuk menjalankan misi yang berat itu maka diperlukan karakter manusia yang kokoh sebagaimana tercermin dari sifat para Nabi, yaitui: jujur (shidiq), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fathanah), dan komunikatif (tabligh). Dalam perkembangannya karakter-karakter ini diadopsi dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan modern. Pakar kepemimpinan Stephen R. Covey menekankan pentingnya hidup dengan memegang prinsip (principle-centered), yaitu: fairness (keadilan), integrity (ketulusan/keteguhan), honesty (kejujuran), dan human dignity (kehormatan manusia). Jika masyarakat Barat yang sebagian besar aturan hidupnya bersifat sekuleristik, masih memegang prinsip universal tersebut, bagaimana dengan kita yang hidup di Indonesia dan dikenal sebagai masyarakat relijius?

REFERENSI

Anonim. Agustus 2009. Analisis Nilai-Nilai Profetik dengan Kerangka Filsafat Pendidikan dan Implikasinya bagi Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Studi atas Pemikiran Kuntowijoyo). http://gudangmakalah.blogspot.com. Diakses Sabtu, 26 Desember 2009.

Asep Sofyan. 1 November 2008. “Menggagas Psikologi Profetik”. http://bermenschool.wordpress.com. Diakses Sabtu, 26 Desember 2009.

Masdar Hilmy. 2009. Islam Profetik, Substansiasi Nilai-nilai Agama dalam Ruang Publik. dalam Abduhradar. 12 Januari 2009. “Menuju Keberagaman Profetik”. http://id.shvoong.com. Diakses Sabtu, 26 Desember 2009.

PPSDMS. April 2008. “Kepemimpinan Profetik”. http://ppsdms.org/kepemimpinan-profetik.htm. Diakses Sabtu, 26 Desember 2009.

Wapedia. 24 Januari 2008. Wiki: ilmu sosial profetik. http://wapedia.mobi. Diakses Sabtu, 26 Desember 2009.

0 komentar:

Posting Komentar